rumahhijaurakyat.com, Balikpapan — Ancaman fenomena El Nino 2026 mulai diantisipasi secara serius oleh Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB). Dengan proyeksi musim kering berkepanjangan yang berpotensi memicu krisis air, perusahaan daerah ini tidak tinggal diam. Berbagai langkah strategis disusun berbasis data dan simulasi teknis untuk memastikan layanan air bersih tetap berjalan bagi masyarakat.

Upaya tersebut diperkuat melalui rapat koordinasi strategis bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Wilayah IV yang digelar pada 31 Maret 2026. Pertemuan ini menjadi titik penting dalam merumuskan langkah mitigasi yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga terukur dan berkelanjutan.
Fenomena El Nino diperkirakan mulai terjadi pada April dan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Intensitas yang diprediksi cukup tinggi menjadi perhatian utama, terutama bagi Balikpapan yang masih bergantung pada sumber air tadah hujan, dengan Waduk Manggar sebagai tulang punggung pasokan air baku.
Direktur Utama PTMB, Dr. Saharuddin, menegaskan bahwa kesiapan menghadapi kondisi tersebut tidak dibangun atas asumsi semata.
“Mitigasi yang kami siapkan bukan berbasis asumsi, tetapi berbasis data dan simulasi. Kami menghitung secara detail potensi penurunan air baku, dampaknya terhadap produksi, hingga skema distribusi agar layanan tetap berjalan,” ujarnya.
Dalam kondisi normal, muka air Waduk Manggar dapat turun sekitar 5 sentimeter per hari. Namun, dengan berkurangnya curah hujan akibat El Nino, penurunan ini berpotensi berlangsung lebih cepat dan signifikan. Tidak hanya kuantitas, kualitas air juga menjadi tantangan tersendiri. Peningkatan kekeruhan, masuknya pasir dan udara ke sistem pompa, hingga pertumbuhan gulma air seperti kayu apu dapat mengganggu proses produksi air bersih.
Ketergantungan masyarakat terhadap layanan PTMB semakin menegaskan pentingnya langkah mitigasi. Saat ini, cakupan layanan air bersih di Balikpapan telah mencapai sekitar 77,02 persen dari total kebutuhan masyarakat. Artinya, sebagian besar warga sangat bergantung pada keberlanjutan distribusi air dari perusahaan ini.
Sebagai langkah awal, PTMB bersama BWS menyepakati optimalisasi tampungan Waduk Manggar. Pengaturan pintu spillway di Bendungan Sungai Wain juga akan dimaksimalkan guna mempertahankan volume air sebelum memasuki puncak musim kemarau. Selain itu, diterapkan skenario simulasi pengambilan air sebesar 75 persen dengan asumsi inflow hanya 50 persen, sebagai upaya menjaga stabilitas elevasi waduk hingga akhir tahun.
Tidak hanya mengandalkan sumber utama, BWS turut merekomendasikan pemanfaatan tiga bendungan pengendali atau bendali, yakni Bendali 1, Bendali 3, dan Bendali 4, sebagai sumber suplai tambahan. Diversifikasi sumber air ini menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan air baku di tengah ketidakpastian iklim.
Dari sisi operasional, PTMB juga menyiapkan langkah antisipatif jika terjadi penurunan kapasitas produksi. Salah satunya adalah penerapan sistem penggiliran distribusi air secara terukur, dimulai dari wilayah hulu hingga hilir, guna memastikan pemerataan layanan tetap terjaga.
Dalam skenario darurat, PTMB telah menyiagakan sekitar 30 unit mobil tangki air. Distribusi air bersih melalui armada ini akan difokuskan pada wilayah prioritas, seperti kawasan dengan elevasi tinggi, daerah terjauh, serta fasilitas vital seperti rumah sakit dan layanan publik lainnya.
Namun, langkah yang diambil tidak berhenti pada penanganan jangka pendek. PTMB juga memperkuat strategi jangka menengah melalui optimalisasi sumber air alternatif. Upaya tersebut mencakup identifikasi dan reaktivasi sumur bor yang tidak aktif, pembangunan dua sumur bor baru di kawasan Gunung Tembak dan Jalan Mufakat, serta pemanfaatan bendali yang telah ada.
Di sisi lain, PTMB bersama BWS juga membuka peluang untuk mengusulkan tambahan anggaran kepada pemerintah pusat. Dukungan ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan serta rehabilitasi infrastruktur air bersih sebagai bagian dari upaya mitigasi kekeringan secara nasional.
Saharuddin menekankan bahwa kesiapan teknis harus berjalan seiring dengan kesadaran masyarakat. Ia mengajak seluruh warga untuk turut berperan aktif dalam menjaga ketersediaan air bersih.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa kondisi ini adalah tantangan bersama. Dengan penggunaan air yang lebih bijak, kita bisa menjaga agar distribusi tetap merata dan tidak terjadi krisis yang lebih besar,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, PTMB akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Balikpapan untuk menyampaikan imbauan resmi terkait penghematan air. Selain itu, edukasi publik mengenai dampak El Nino terhadap ketersediaan air bersih juga akan terus diperkuat.
Masyarakat pun diimbau mulai menerapkan kebiasaan hemat air dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi penggunaan berlebih, menampung air saat distribusi berlangsung, serta memanfaatkan air secara efisien.
Dengan kombinasi kesiapan teknis, koordinasi lintas sektor, serta dukungan masyarakat, PTMB optimistis mampu menjaga stabilitas layanan air bersih di tengah ancaman El Nino 2026.
“Air adalah kebutuhan dasar yang harus kita jaga bersama. Dengan langkah yang terencana dan kesadaran kolektif, kita bisa menghadapi El Nino ini dengan lebih siap dan tetap melayani masyarakat secara optimal,” tutup Saharuddin.(**)
Tulis Komentar